• Today’s Quote

    Rasululloh Saw bersabda : “Ajarkanlah shalat kepada anak-anakmu jika sudah sampai umur tujuh tahun, pukullah karena meninggalkannya jika sudah sampai umur sepuluh tahun dan pisahkan tempat tidur mereka.” (H.R. Ahmad)
  • Lautan Tanpa Tepi

    Kumpulan artikel pembuka hati yang membahas tentang ilmu dan amalan para sufi, karangan K. H. M. Abdul Gaos SM yang pernah dimuat di majalah Nuqthoh.
    Harga Rp. 25.000,-
    Dapatkan diskon spesial bagi anggota milis pembacanuqthoh @ yahoogroups.com

  • SM Menjawab 165

    Buku yang membahas tentang pemahaman mengenai TQN PP Suryalaya.
    Harga Rp. 30.000,-
    Diskon khusus bagi yang memesan lewat email nuqthoh@gmail.com.

Spiritual Quotient

MANUSIA adalah mahluk yang rentan terjebak dalam konflik bathin antara fisik dan mental, jasmani dan ruhani. Untuk itu Penguasa Alam mengajarkan manusia agar dapat mencapai keseimbangan dalam kepribadiannya dengan memenuhi semua kebutuhan jasad dan ruhnya, tidak berlebihan.
Terwujudnya keseimbangan antara jasad dan ruh merupakan syarat penting untuk mencapai kepribadian harmonis. Keseimbangan hidup berarti menjalankan kehidupan sesuai dengan fitrah Alloh… Keseimbangan antara jasad dan ruh ini terwujud dalam frame sempurna pada diri Rasul-Nya. Alloh menegaskan dalam al-Qur’an; dan carilah kehidupan dunia dan janganlah kamu lupa dengan kehidupanmu di dunia.

Spiritual Quotient (SQ) dalam Pandangan Barat

Perubahan global yang berkembang amat pesat memunculkan kompleksitas kepentingan yang tidak bisa diprediksi dan tidak terkendali, sehingga berdampak pada munculnya gejala disorientasi nilai, disharmoni sosial, disorder system, dan disfungsi peran dan profesi. Termasuk semakin terkikisnya nilai moral pada sebagian masyarakat, hal tersebut terjadi, ketika masyarakat didikte untuk memasuki ‘kehampaan spiritual’ yang membuatnya terasing dari diri, lingkungan dan nilai moral yang dianutnya (Mulyasa : 2007). Gejala-gejala tersebut di antaranya adalah :
1. Adanya kecenderungan untuk bergaya hidup mewah dan hedonisme yang mengakibatkan serakah serta beberapa pelanggaran moral dan agama.
2. Adanya kecenderungan untuk berani dan bangga berbuat dosa, lebih parah lagi mengajak dan memploklamirkan dirinya sebagai pimpinan menuju dosa.
3. Masuknya berbagai pengaruh asing yang bertentangan dengan jati diri bangsa Indonesia yang merusak tataran sosial masyarakat.
4. Adanya perbuatan menyimpang yang berlaku di masyarakat dan dianggap sudah biasa, walaupun jelas dilarang ajaran agama.
Akibatnya mentalitas masyarakat Indonesia tidak menuju kepada kebaikan, bahkan sebaliknya tumbuh subur mentalitas meremehkan mutu, tidak suka bekerja keras, tidak memiliki kompetensi, kurang percaya diri, tidak sadar diri, penuh ketegangan dan kekhawatiran serta semakin banyak orang yang mengalami stres.
Kepintaran seseorang (IQ) tinggi tidak menjadikan orang tersebut baik, malah terbalik berani korupsi uang rakyat milyaran rupiah dan menjual asset negara. Para pelajar di bawah sistem kapitalis digiring untuk mencapai berbagai prestasi tinggi tanpa mengindahkan kaidah moral. Budaya nyontek, suap dan budaya katrolisasi dengan tim suksesnya adalah kaidah moral jelek yang dibenarkan.
Daniel Golemen dengan bukunya Emotional Intellegence mengubah pandangan orang tentang pentingnya kecerdasan emosional. Kita terhenyak oleh sebuah kecerdasan emosi (EQ) yang ternyata bisa demikian jauh mendahului IQ dalam berkompetisi, sehingga memunculkan orang-orang seperti Bill gate, Michael Dell, Larry Ellison dan lainnya.
Ketakjuban di atas tidak berlalu lama, teori yang mengagungkan IQ dan EQ dalam hidupnya hanya berorientasi kepada kebendaan dan hubungan antar manusia. Padahal manusia diciptakan Alloh dalam bentuk sempurna terdiri dari jasmani dan rohani, banyak orang merasa sudah mencapai kesuksesan, tetapi merasakan kehampaan, umumnya mereka baru menyadari setelah mencapai puncak tertinggi. Ternyata akhirnya harta, kehormatan dan kedudukan bukanlah sesuatu yang mereka cari.
Muncullah sekitar tahun 2000-an Danah Zohar dan Ian Marshall dengan konsep kecerdasan spiritual (SQ) mengungkapkan dalam bukunya bahwa saat ini, pada akhir abad kedua puluh , serangkaian data ilmiah terbaru, yang sejauh ini belum banyak dibahas, menunjukkan adanya “Q” jenis ketiga. Gambaran utuh kecerdasan manusia dapat dilengkapi dengan perbincangan mengenai kecerdasan spiritual, disingkat SQ.
SQ yang dimaksud adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. SQ adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Bahkan, SQ merupakan kecerdasan tertinggi kita (Danah Johar & Ian Marshall : 4).
Dalam Penjelasan lain Danah Johar & Ian Marshall mengatakan bahwa secara harfiah SQ beroperasi dari pusat otak -yaitu dari fungsi-fungsi penyatu otak. SQ mengintegrasikan semua kecerdasan kita. SQ menjadikan kita mahluk yang utuh secara intelektual, emosional dan spiritual.
Riset yang dilakukan oleh Michael Persinger pada tahun 1990-an, serta riset yang dikembangkan oleh V.S. Ramachandran pada tahun 1997 menemukan adanya ‘God Spot’ dalam otak manusia, yang secara built-in merupakan pusat spiritual, yang terletak di antara jaringan syaraf dan otak. Begitu juga hasil riset yang dilakukan oleh Wolf Singer menunjukkan adanya proses syaraf dalam otak manusia yang terkonsentrasi pada usaha yang mempersatukan dan memberi makna dalam pengalaman hidup kita. Suatu jaringan yang secara literal mengikat pengalaman kita secara bersama untuk hidup lebih bermakna. Pada God Spot inilah sebenarnya terdapat fitrah manusia yang terdalam (Ari Ginanjar, 2001). Kajian tentang God Spot inilah pada gilirannya melahirkan konsep kecerdasan spiritual, yakni suatu kemampuan manusia yang berkenaan dengan usaha memberikan penghayatan bagaimana agar hidup ini lebih bermakna. Dengan istilah yang salah kaprahnya disebut Spiritual Quotient (SQ).

Spiritual Quotient (SQ) dalam Pandangan Islam

Menurut Ary Ginanjar, konsep SQ yang dikembangkan di barat di atas belum menjangkau ketuhanan. Pembahasannya baru sebatas tataran biologi atau psikologi semata, tidak bersifat transendental. Akibatnya kita masih merasakan kebuntuan (Ari Ginanjar 2001)
Kebenaran sejati, sebenarnya terletak pada suara hati yang bersumber dari spiritual center (mata hati). Ini sesuai dengan yang ditegaskan oleh Nabi Saw:
“Ingatlah bahwa dalam diri anak Adam itu ada segumpal daging, apabila segumpal daging itu baik maka baklah selurh jasadnya. Jika segumpal daging itu jelek maka jeleklah seluruh jasadnya ingatlah segumpal daging itu adalah hati.”
Dalam Islam manusia diciptakan menurut citra yang dibekali oleh unsur-unsur ketuhanan, sebagaimana firman Alloh dalam surat as-Sajdah ayat 9 yang artinya:
”Dalam tubuh manusia telah kutitipkan ruh dari ruh-Ku.”
Oleh karena itu manusia terdiri dari bentuk jasmani yang kelihatan dan bersifat fana’, dan bentuk rohani yang tidak kelihatan. Bentuk jasmani terdiri dari fisik, sedangkan bentuk rohani terdiri dari akal dan hati. Dengan fisiknya manusia bisa bergerak di muka bumi, dengan akalnya manusia bisa berfikir tentang ciptaan Alloh dan dengan hatinya manusia bisa merasa serta sampai kepada Alloh.
Sikap mental dan perasaan seperti: sabar, tawakkal, siddiq, jujur, giat, ulet, semangat, ingin menolong orang lain, marah, dendam kebencian semuanya berpangkal dari hati. Imam al-Ghozali dalam Ihya Ulumuddin, hati itu bagaikan raja dan anggota badan lainnya adalah prajuritnya. Rajalah yang berkuasa memerintah para prajuritnya. Jika rajanya baik, pasti menyuruh kepada kebaikan, sebaliknya jika rajanya jelek maka akan keluar perintah kerusakan.
Untuk itulah para sufi sangat memperhatikan bagaimana cara membersihkan hati serta menjaganya agar senantiasa selalu ingat kepada Alloh (dzikrulloah), dengan harapan agar hatinya terpenuhi cahaya Alloh guna memancarkan berbagai kebaikan hidup. Para Sufi percaya dengan mengisi hati oleh dzikrulloh, syetan tidak berani memasukinya dan pula hanya dengan mengingat dzikrulloh, hati mereka akan merasa tenang walaupun jasadnya hidup dalam global yang serba kompleks ini. Itulah konsep spiritual sebenarnya dalam Islam yang mampu menjaga keseimbangan hidup manusia dalam berhubungan dengan Penciptanya.
Potensi spiritual adalah elemen yang sangat penting yang menjadikan fondasi makna kehidupan. Tanpa bangunan spiritual yang kokoh, kehidupan seseorang menjadi hampa, kosong, limbung bahkan bagaikan terpenjara dan tak bermakna.
Orang-orang yang bersih hatinya mempunyai landasan spiritual kuat yang tertanam dalam hati dan fikiran, mereka berpegang teguh pada satu kepercayaan, yakni kekuatan Tuhan Yang Maha Luhur. Mereka meyakini bahwa tiada Tuhan selain Alloh dan Muhammad adalah utusan-Nya. Inilah makna spiritual yang terpenting dan mendasar. Dan manusia yang mempunyai kekuatan spiritual tinggi dijamin Tuhannya bahagia.
Spiritual menurut Islam, spiritual yang tidak sekedar teori dan konsep. Spiritual tidak hanya sampai kepada sasaran otak kanan, ataupun tataran psikologi semata, tetapi spiritual yang sampai kepada aspek spiritual yang bertashawuf dan dipraktekkan dengan sebuah thariqat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: