• Today’s Quote

    Rasululloh Saw bersabda : “Ajarkanlah shalat kepada anak-anakmu jika sudah sampai umur tujuh tahun, pukullah karena meninggalkannya jika sudah sampai umur sepuluh tahun dan pisahkan tempat tidur mereka.” (H.R. Ahmad)
  • Lautan Tanpa Tepi

    Kumpulan artikel pembuka hati yang membahas tentang ilmu dan amalan para sufi, karangan K. H. M. Abdul Gaos SM yang pernah dimuat di majalah Nuqthoh.
    Harga Rp. 25.000,-
    Dapatkan diskon spesial bagi anggota milis pembacanuqthoh @ yahoogroups.com

  • SM Menjawab 165

    Buku yang membahas tentang pemahaman mengenai TQN PP Suryalaya.
    Harga Rp. 30.000,-
    Diskon khusus bagi yang memesan lewat email nuqthoh@gmail.com.

Kekuasaan Itu Amanah

Setiap kali terdengar kabar seorang pejabat akan dilantik untuk menempati suatu jabatan, sebagian dari kita tergugah untuk bertanya: Dalam pandangan Islam, jabatan (kekuasaan) itu seperti apa? Apakah seperti judul sebuah artikel: Kekuasaan Itu Ular Berbisa, yang dimuat salah satu harian terbitan Jakarta. Sehingga “Orang yang berakal sehat dan memandang akherat akan menghindarinya”? Benarkah seperti itu?..

SUATU ketika, Abu Dzar bertanya: “Ya Rasululloh, kenapa engkau tidak mem-percayakan kekuasaan kepadaku?” Muhammad Saw, menjawab: “Wahai Abu Dzar, engkau adalah orang yang lemah, dan kekuasaan (jabatan) itu adalah amanat Alloh. Di hari kiamat nanti (kekuasaan itu) akan menjadikan seseorang menyesal atau hina karenanya, kecuali orang-orang yang bisa menegakkan kebenaran serta berlaku adil lagi jujur.”
Jadi, sebenarnya kekuasaan itu amanat. Kata amanat adalah serapan dari bahasa Arab.
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (Q.S. 33 : 72)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Alloh dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (Q.S. 8 : 27).
Menurut Ibnu Katsir, amanat adalah taklif (pembebanan hukum, undang-undang, serta peraturan pelaksanaannya), dan menerima beban itu dengan segala konsekwensinya. Jika ia laksanakan beban itu akan diberi pahala, dan sebaliknya jika ia tinggalkan maka ia akan dihukum.
Sementara, menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI), amanat adalah barang sesuatu yang dipercayakan (dititipkan) kepada orang lain. Jelas, amanat adalah barang pinjaman yang harus dipakai dan dirawat dengan baik oleh si penerima/ peminjam serta suatu saat harus dikembalikan kepada pemiliknya jika si pemilik memintanya lagi.
Bagi siapa pun yang menerima amanat, tidak ada pilihan lain kecuali menunaikannya. Sebab, jika kita mengkhianati amanat, maka potret kehidupan akan berwajah buram. Ketika pemimpin tak menjalankan amanat, maka krisis moral, politik, hukum, ekonomi, dan lainnya pasti akan terjadi. Ketika pejabat mengabaikan amanat, maka korupsi, kolusi, dan nepotisme menjadi gampang. Dengan demikian, tampak bahwa amanat termasuk hal paling pokok yang menentukan wajah dunia.
Karena kekuasaan adalah amanat, maka dari segi ini lahir dua aspek prestasi yang harus dilakukan seorang pengemban kekuasaan.
Pertama, semua kekuasaan harus ditunaikan dengan penuh rasa tang-gung jawab. Penerima amanat adalah abdi (pelayan/ pembantu) dari si pemberi amanat. Dan, oleh karena itu ia sama sekali bukan penguasa (tuan).
Kedua, sebagai barang titipan, maka kekuasaan itu harus diserahkan kembali kepada si pemberi amanat, entah karena waktu ‘serah terima’ kekuasaan telah tiba sebagaimana telah diperjanjikan sejak mula, atau karena si pemegang amanat berkhianat sekalipun waktu ‘serah terima’ resmi belum sampai waktunya. Dengan demikian, sungguh tak elok jika ada usaha (halus atau pun kasar) untuk mempertahankan kekuasaan itu.
Jadi, perumpamaan kekuasaan itu bak ular berbisa tidak tepat, atau sekurang-kurangnya kurang lengkap. Agar tidak bias, pernyataan bahwa kekuasaan itu bak ular berbisa sepatutnya tidak diakhiri titik, tetapi koma. Sehingga kalimat lengkapnya menjadi ‘Kekuasaan itu bak ular berbisa, jika si pejabat itu mengkhianati amanat’. Sebaliknya, jika sang pejabat dapat menunaikan amanat dengan baik, yaitu menyelenggarakan kekuasaan itu dengan berlaku benar, adil, dan jujur, maka sesungguhnya kekuasaan itu dapat mengantarkan dirinya -dan orang lain- ke tempat terhormat di sisi Alloh.
Dengan demikian, jika kita dipercaya orang untuk menjadi pengemban kekuasaan, kita tak perlu menghindarinya. Tetapi, sebaliknya, kekuasaan tak patut kita peroleh dengan jaIan menghalalkan segala cara.

Ruh Kekuasaan
Pemimpin itu harus amanat. Antara lain, bercirikan disiplin dalam memegang kata-katanya. Selalu sama antara kata dan perbuatannya. Jika, misalnya suatu ketika ia berpidato: “Tegakkan hukum dan utamakan kepentingan nasional!”, maka akan banyak orang yang bisa bersaksi, apakah sang pejabat itu konsisten atau tidak dengan pernyataannya itu.
Lebih jauh lagi, menurut KUBI, amanat juga berarti kepercayaan. Amanat adalah (orang) yang dapat dipercaya. Maka alangkah indahnya dunia yang dipenuhi oleh orang-orang terutama pejabat yang amanat. Sebaliknya, sungguh malang jika kita dipimpin pejabat tak bermoral karena suka melanggar amanat.
Maka, amanat harus menjadi ruh setiap pejabat. Sikap dapat dipercaya harus menjadi nafas segenap pejabat. Sifat jujur (tidak suka bohong) harus menjadi jiwa seluruh pemimpin. Dan, jika kita mendapatkan pejabat yang amanat, semua rakyat pantas berbahagia, sebab sang pemimpin akan bekerja dengan penuh tangguh dan efektif
Jadi, jika ingin sukses menjadi pemimpin/pejabat, bila ingin berhasil menyelenggarakan kekuasaan dengan baik, maka pilihannya hanya satu yaitu pakailah amanat sebagai kepribadian.
Ambillah amanat sebagai energi yang menggerakkan seluruh aktivitas hidup. Jadikanlah amanat sebagai spirit dalam mengelola jabatan. Sungguh, ruh kekuasaan itu bernama amanat.
(Tulisan ini disarikan dari kegiatan seminar di Gedung Dakwah, Banjarsari, 14 Pebruari 2009,
dengan tema : Implementasi Kebijakan Politik Dalam Penyehatan Moral Bangsa)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: