• Today’s Quote

    Rasululloh Saw bersabda : “Ajarkanlah shalat kepada anak-anakmu jika sudah sampai umur tujuh tahun, pukullah karena meninggalkannya jika sudah sampai umur sepuluh tahun dan pisahkan tempat tidur mereka.” (H.R. Ahmad)
  • Lautan Tanpa Tepi

    Kumpulan artikel pembuka hati yang membahas tentang ilmu dan amalan para sufi, karangan K. H. M. Abdul Gaos SM yang pernah dimuat di majalah Nuqthoh.
    Harga Rp. 25.000,-
    Dapatkan diskon spesial bagi anggota milis pembacanuqthoh @ yahoogroups.com

  • SM Menjawab 165

    Buku yang membahas tentang pemahaman mengenai TQN PP Suryalaya.
    Harga Rp. 30.000,-
    Diskon khusus bagi yang memesan lewat email nuqthoh@gmail.com.

Harmoni Dzikir Tenangkan Jiwa

MANG Dasman (53) bukan seorang ustadz apalagi kyai yang kata-katanya selalu dinanti untuk penyejuk hati. Juga bukan seorang tokoh yang kedatangannya senantiasa disambut dengan penuh antusias. Pria berputra 7 orang ini hanyalah seorang petani di daerah Wado Kabupaten Sumedang.
Namun siapa sangka, di balik kesederhanaannya itu mampu mempesonakan siapapun juga yang sudah mengenal dirinya…Tutur katanya halus, kata-katanya indah tanpa dibuat-buat dan seringkali jadi rujukan bagi orang-orang yang biasa datang menyambanginya. Lebih mengesankan lagi saat bertandang ke rumahnya. Tempat tinggalnya yang berdinding bilik bambu itu seolah menjadi saksi ‘simfoni’ sakinah terus mengalun di sana. Tercermin dari raut mukanya yang ‘bercahaya’ seolah menunjukkan seisi rumah itu senantiasa basah dengan air wudhu. Nampak wajah-wajah bekas sujud tercermin dari kepribadian yang sangat mengesankan.
Sungguh beruntung penulis diantarkan Alloh bertemu dengan orang itu. Berawal dari ketertarikan penulis untuk mengetahui rahasia kesuksesan Mang Dasman dalam memenej diri dan keluarganya, diutarakanlah keinginan untuk bermalam di rumahnya. Tujuannya tiada lain untuk mengetahui apa saja yang dilakukan oleh keluarga itu.
Ada beberapa ketertarikan yang sempat dicatat oleh penulis dari kebiasaan keluarga itu. Pertama, keluarga Mang Dasman adalah pecinta masjid. Nyaris tak ada waktu yang terlewatkan untuk menunaikan shalat fardhu berjama’ah di masjid dengan menempuh perjalanan sekitar 200 meter. Kedua, jarang beranjak dari sajadah dari mulai maghrib hingga selesai sholat sunat lidaf’il bala dan amaliah khataman. Ketiga, senantiasa menghiasi 1/3 malam terakhir dengan shalat tahajud, shalat hajat, shalat tasbih dan shalat sunat witir serta melakukan dzikir dengan khusyu, tartil hingga membuat siapapun yang mendengarnya ikut larut dalam ke-Mahabesaran Alloh. Diakhiri tawajuh hingga mereka bersiap-siap untuk berangkat ke masjid untuk menunaikan sholat subuh berjama’ah. Keempat, menyambut pagi dengan pelaksanaan shalat ‘isyroq, shalat isti’adah, dilanjutkan dengan shalat istikhoroh. Kemudian sekira jam 8 keluarga itu melaksanakan shalat dhuha bersama.
“Inilah sarapan pagi keluarga kami. Melaksanakan sholat sunat kemudian dzikir. Kalau tidak melakukan, rasanya kekuatan kami untuk mencari rohmat Alloh pada hari itu akan hilang”, ucap Mang Dasman.
Lebih tergetar lagi penulis menyaksikan satu kebiasaan yang bisa jadi sangat langka dilakukan orang lain. Yaitu dibacakannya Tanbih setiap pagi oleh Mang Dasman dan 3 anak laki-lakinya secara bergiliran. Setelah itu barulah mereka keluar untuk menjemput rohmat Alloh. Mang Dasman ke sawah, sementara anak laki-lakinya berjualan.
“Dengan dibacakannya Tanbih setiap pagi, diharapkan menjadi filter bagi keluarga kami untuk senantiasa terbimbing dengan akhlaknya orang-orang sholeh”, lanjutnya kemudian.
“Bagi kami, mencari kekayaan berbentuk materi itu penting karena untuk bekal selama kehidupan di dunia. Namun lebih penting lagi mempersiapkan bekal untuk kehidupan yang abadi”.
Yang terjadi pada Mang Dasman hanyalah contoh satu babak dalam kehidupan orang yang beriman ketika menjalankan rutinitas kesehariannya. Setiap langkahnya merupakan dzikrulloh. Ia sadar betul, hanya dengan dzikirlah seorang hamba akan diingat di sisi Alloh, sebagaimana yang telah difirmankan-Nya dalam surah al-Baqoroh ayat 152:
“Dan ingatlah Aku (Alloh), maka Aku (Alloh) akan mengingatmu.”
Kehidupan kita dewasa ini dikepung dengan berbagai bentuk kemaksiatan, kepalsuan dan kegenitan dunia yang siap menerkam diri, keluarga maupun anak cucu kita. Persaingan yang begitu ketat dalam mencari rupiah acap membawa seorang manusia tak lagi mengindahkan rambu-rambu syari’at, sehingga korupsi pun lantas berubah status menjadi halal.
Anehnya, untuk mencapai status sosial di masyarakat yang serba materialistis ini, manusia modern tak segan-segan membeli ‘stress’, keluar pagi pulang malam untuk satu tujuan, mengejar harta duniawi. Semakin berat tantangan, semakin asyik ia tenggelam dalam pekerjaannya. Lupa makan, lupa anak dan istri, lupa shalat dan pada akhirnya lupa Alloh.
Maka tak heran jika ia terlihat sebagai budak nafsu dan birahinya. Ujung-ujungnya akan terjerumus pada keputusasaan dan frustasi, apalagi jika ia tertimpa musibah atau malapetaka. Para dokter jiwa sepakat bahwa gejala stress diakibatkan adanya ketidakseimbangan dalam jiwa ketika mengalami tekanan yang begitu hebat. Dan salah satu terapi yang dikembangkan para dokter jiwa dalam menangani pasien yang stress adalah dengan cara curhat kepada teman atau kepada orang terdekat. Ilmu modern telah menetapkan bahwa kesuksesan hidup di dunia merupakan buah dari ketenangan jiwa.
Seorang rekan penulis di Jakarta yang sempat 3 bulan ‘sakit jiwa’ akibat usaha yang telah dirintis sejak lama mengalami kebangkrutan, akhirnya sembuh kembali setelah mengembalikan seluruh urusan kepada Sang Pemilik Jiwa, yang mendatangkan penyakit dan yang memberikan kesembuhan. Ia jalankan shalat, dzikir, khataman, manakib dengan sepenuh hati hingga jiwanya stabil kembali hingga akhirnya orang itu sadar bahwa semua yang dimilikinya hanya titipan Alloh semata.
Orang yang beriman sadar dan yakin sepenuhnya apa yang telah disampaikan dalam surat Ghafir ayat 44 :
“Aku serahkan urusanku hanya kepada Alloh,”
Sehingga ia tak mudah frustasi, ragu-ragu, gelisah atau stres. Jiwanya tenang menghadapi setiap kejadian bahkan ia mengambil hikmah atas setiap kejadian. Ia selalu memandang putih setiap masalah, kendati yang putih itu hanya satu persen dari seluruh kejadian. Ia selalu berbaik sangka atas setiap perkara karena hatinya tak pernah dipenuhi perkara dengki, riya, ujub atau takabur. Yang ada di hatinya hanya mengingat Alloh sejalan dengan lisannya yang juga berdzikir.
Dr. Karl Young, seorang dokter ahli di bidang kejiwaan berkata, “Sesungguhnya setiap orang sakit yang meminta saran kepadaku sejak 30 tahun yang lalu, yang berasal dari seluruh pelosok dunia, rata-rata penyebab sakit mereka adalah karena minimnya keimanan dan goyahnya akidah. Mereka tidak akan pernah sembuh kecuali setelah berusaha mengoptimalkan kembali keimanan mereka yang telah hilang tersebut.”
Bayangkan, seorang dokter yang mempelajari ilmu kedokteran modern dan telah berpraktik sekian lama, berkesimpulan bahwa tidak ada obat bagi penyakit gelisah (stres) selain beriman kepada Alloh Yang Maha Kuasa. Pendapat ini diperkuat oleh Wiliam James, seorang profesor ilmu jiwa di Universitas Harvard Amerika yang mengatakan bahwa obat paling mujarab terhadap penyakit gelisah tak diragukan lagi adalah keimanan.
Bisa saja keimanan yang mereka katakan ditinjau dari kacamata mereka. Tetapi al Qur’an telah membuktikan bahwa solusi dari semua persoalan yang dihadapi adalah dengan berdzikir sebanyak-banyaknya (al-Ahzab ayat 41-42) sehingga yang darinya akan timbul ketentraman (ar-Ra’d ayat 28).
Tidaklah aneh jika seseorang yang datang membawa persoalan kepada guru mursyid senantiasa diterapi untuk banyak-banyak melakukan dzikrulloh. Dzikir merupakan makanan ruhani yang paling bergizi bagi manusia, karena dzikir dapat memberikan ketenangan jiwa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: